Pergaulan Bebas
Namaku Andri (samaran) seorang pelajar berumur 19 tahun. Dalam kehidupan pergaulan sehari-hari aku sering menjadi perhatian di lingkungan tempat aku sekolah, selain pergaulan yang luwes, aku memiliki postur yang bisa dikatakan lumayan. Dengan warna kulitku yang putih, tinggi 170 dan berat sekitar50Kg serta single, tidaklah sulit bagi diriku untuk mencari teman-teman baru.
Di sekolah, ada salah seorang teman wanita yang (pernah) menjadi perhatianku. Sebut saja namanya Riska. Dalam pergaulannya, Riska juga seorang yang luwes, oleh sebab itu dia terpilih sebagai ketua OSIS di sekolahku, yang sebelumnya adalah teman satu bangku ku.
Awal tahun 2008 yang lalu Riska jadian sama aku. Walaupun sekarang sudah setahun, Riska tetap seperti yang dulu, luwes dan anggun. Walaupun postur tubunya bukanlah tipe seorang yang bertubuh tinggi dan langsing, tapi dia memiliki kharisma tersendiri. Dengan kulit yang putih, payudara sekitar 34 serta betis yang indah, senyumnya yang menawan, tidak mengherankan bila menjadi perhatian para lelaki.
Kedekatan diriku dengan Riska berawal sejak dia tersenyum padaku. Sejak dia jadi ketua OSIS di sekolah, aku jadi jarang sekali bertemu. Paling hanya berbicara melalui telpon atau saling kirim email. Kami sering bercakap-cakap mengenai sekolah dan kadang-kadang menjurus ke hal yang pribadi. Karena Riska kadang-kadang berkeluh kesah mengenai masalah-masalah sekolah, yang sering membuat pikirannya cemas. Dan hal itu terbawa dalam keluarga. Rasa cemas Riska terkadang memang berlebihan, yang membuat sampai awal tahun 2009 ini belum ada tanda-tanda bahwa dirinya dicintai. Rasa cemas dan bersalah timbul pada diri Riska, karena selalu menjadi bahan pertanyaan khususnya dari pihak teman. Aku sering kali memberi semangat dan dukungan kepadanya untuk selalu belajar menerima apa adanya dalam situasi apapun. Bila ada sesuatu pikiran yang membuat gundah Riska, aku selalu dapat membuat dirinya lupa dengan masalahnya. Aku selalu dapat membuat dirinya tertawa, dan terus tertawa. Pernah suatu ketika, Anita tertawa sampai berlutut dilantai sambil memegang perutnya karena tertawa sampai keluar air mata dan sakit perut!!
Suatu hari (aku lupa persisnya) , Riska menelponku melalui HP. Pada saat itu aku baru saja sampai di rumah, setelah seharian bekerja.
“Haloo Riska.. Lagi dimana yank? Tumben nih malem-malem nelpon, hehehehe..” kataku kemudian.
“Lagi di rumaah. Lagi bengong-bengong, laper and cuapek buanget nih, tadi gue ada meeting di aula sekolah dari siang, lu sendiri masih sekolah?” kata Riska kemudian.
“Nggak laah, baru aja sampai di rumah. Eh, lu dirumah bengang-bengong ngapain sih? Emang di rumah lu kaga ada beras, sampai kelaperan gituh?” candaku kemudian.
Disana Riska terdengar tertawa renyah sekali,
“Hehehehe.. Emang benar-benar nih anak!! Gue capek karena belajar! Terus belum sempet makan dari pulang sekolah!!”
“Ooo, gitu. Gue kira lu capek karena jalan kaki dari sekolah ke rumah!” kataku kemudian.
“Eee, enak aja!! Ntar betis gue besar sebelah gimana?”
“Lhaa kan, tadi gue bilang jalan kaki, bukan ngangkat sebelah kaki terus loncat-loncat? Kenapa betis lu bisa besar sebelah?”
Disana Riska hanya bisa tertawa, mendengar kata-kataku tadi.
“Sudah lu istirahat dulu Ka, jangan lupa makan, mandi biar wangi. Seharian kan sudah belajar, capek, ntar kalau lu dikerjain ama aku gimana, sementara sekarang aja lu masih capek?” aku bicara seenaknya saja sambil meneguk minuman juice sparkling kesukaanku.
“Kalau itu mah laeen.. Gue enjoy aja!! Nggak usah mandi dulu kamu juga tetep nempel. ” kata Riska kemudian.
“So anyway, seperti pertanyaan gue tadi, lu tumben Ka, malem-malem gini telpon. Baru kali ini kan?” tanyaku.
“Iya, gue mau ngobrol aja ama lu. Abis disini sepi.. nggak ada yang bisa diajak ngomong” lalu Riska menceritakan apa-apa saja yang menjadi pembicaraan dalam meeting tadi. Seperti biasa, aku diminta pendapat dalam masalah sekolah yang sedang ditangani, dalam sudut pandang aku tentunya.
Tak terasa, kami berbicara sudah satu setengah jam yang kemudian kami berniat mengakhiri, dan berjanji akan di teruskan esok harinya di sekolah. Sebelum aku menutup telpon, tiba-tiba Riska menanyakan sesuatu kepadaku,
“Eh, gue mau tanya dikit dong, boleh nggak? Tapi kalau lu nggak mau jawab, nggak apa-apa..”
“Apa?” tanyaku kemudian.
“Maaf Andri, kalau gue boleh tanya, Hmm.. Lu pernah makkenda' nggak?”.
Mendengar pertanyaan seperti itu aku sedikit kaget, karena walaupun pembicaraan aku dan Riska selalu apa adanya dan kadang bersifat pribadi, tapi belum pernah seperti ini.
“Ngg, pernah.. Kenapa Ka?” tanyaku ingin tahu.
“Nggak, cuma tanya doang.. Lu pertama kali makkenda' kapan, pasti ama cewe lu yang dulu yah?” tanya Riska.
“Gue pertama kali makkenda' waktu SMP, sama teman bukan ama cewe gue, lu sendiri kapan?”
Mendengar jawaban ku tadi Riska langsung berkata,
“Gue sih, waktu SMP juga, sama Astaman (temanx). Rasanya gimana Andri, makkenda' pertama kali?” tanya Riska.
“Lhaah, lu sendiri waktu makkenda' pertama kali gimana?”.
“Awalnya sih, sakit. Tapi enak juga.. Hehehe. Abis Waktu itu Astaman buru-buru amat. Maklum waktu itu kami takut ketauan..”.
“Emang lu makkenda' dimana, di kelas kamu?”
“Hahaha, nggak lah!! Gue lakuin di ruang tamu rumah gue sendiri. Waktu itu lagi nggak ada orang lain. Pembantu gue juga lagi keluar rumah”
“Wah, ternyata waktu gue ke rumah lu kemarin, gue nggak sangka duduk di sofa yang pernah digunain untuk perang antar kelamin..”
Riska hanya tertawa mendengar celotehanku itu. Kemudian kami saling bercerita mengenai pengalaman kami masing-masing, sampai dengan masalah posisi yang paling disukai dan yang tidak disukai dalam berhubungan intim. Kami juga sama-sama bercerita kalau kadang-kadang melakukan masturbasi apabila keinginan sudah menggebu dan tidak tertahankan.
“Wah, Dri.. kalau lu abis mastur, jangan dibuang sembarangan dong, kasiankan, anak lu pada teriak-teriak di got. Mending lu bungkus terus kirim ke gue aja, kali-kali bermanfaat”
“Emang lu mau sperma gue, bawanya gimana? Dibungkus? Kaya bawa nasi rendang! Kirim lewat apa dong? Mending langsung tuang ke lu langsung. Praktis dan nyaman, hehehehe”.
“Week, mengharap amat! Lu yang nyaman, tapi gue yang nggak aman!! Nggak, gue cuma mau sperma lu aja” celetuk Riska dengan sengit.
“Sudah ah, gue mau mandi dulu terus tidur, besok kita kan masih kerja..” kata Riska kemudian. Setelah itu kami sama-sama berpamitan untuk menutup telpon.
TGF (Thanks God is Friday), hari itu aku melakukan seperti biasanya. Walaupun aku terasa mengantuk, tapi aku senang dan belajar dengan semangat sekali karena besok dan lusa libur. Seperti janji semalam, aku makan siang dengan Riska untuk melanjutkan pembicaraan masalah sekolah yang sedang dihadapinya. Aku dan Riskapun berangkat bersama, menuju restoran yang menyajikan masakan Dynasty di dekat senggol dan di tempat tujuan pembicaraan kami hanya berkisar masalah pelajaran yang serius, sekali-kali bercanda dan tertawa. Tidak ada satupun topik yang mengungkit-ungkit pembicaraan akhir di telepon semalam. Sampai pada saat kami diperjalanan pulang, kami hanya diam seribu bahasa. Mungkin karena Riska masih mengingat pembicaraan yang tadi dibicarakan. Kalau aku sih, sedang mengingat-ingat rencana apa yang akan dilakukan liburan nanti. Entah apa yang ada di benak Riska, mungkin pusing liat kemacetan lalu lintas yang sedang dihadapi, maklum dia yang jadi sopir. Sementara aku bersantai-ria disampingnya sambil mendengarkan lagu slow R&B.
“Kenapa sih, kok ngelirik gue terus?” kata aku tiba-tiba, karena aku perhatikan dari sudut mataku, Riska sering melirik ke arah aku.
“Ge-Er aja sih lu? Gue cuma liatin jalan, bukan liat lu! Jalan kan macet, jadi gue bingung mau ambil arah mana?” celetuk Riska.
“Weleh, muka liat jalan, kok biji mata lu ke arah gue? Emang, tampang gue kaya pengamen yah?”. Riska tertawa mendengar celotehan aku tadi.
Kemudian dia berkata, “Dri, lu benar mau kirimin ke gue?”.
“Kirimin apa sih?”.
“Itu-tu, .. Pembicaraan kita semalem..” kata Riska.
“Tentang mastur..”
Aku langsung memalingkan wajahku ke Riska, bingung
“Mastur? Ooo, yang itu. Emang kenapa sih Nit? Lu emang ingin benih gue?”.
“Sebenernya bukan itu, gue cuma ingin punya anak doang. Cuma gue bingung harus gimana?”
“Mungkin sekarang belum rezeki lu, kali Nit. Lu jangan nyerah gitu donk! Suatu saat nanti, kalau rezeki lu sudah dateng, pasti juga dapet kok. Sabar ajah, ya Nit” kataku.
“Jadi maksudnya, lu nggak mau kasih kesempatan ke gue? Maaf ya, Dri? Bukannya gue sudah kehilangan akal sehat, gue cuma mau tes aja. Gue tahu lu orangnya bisa dipercaya. Apapun yang terjadi nanti, gue percaya lu nggak berubah memandang diri gue. Tetep bisa jadi teman gue. Makanya gue perlu lu”.
“Wah Riska, kalau nanti hamil beneran gimana? Serem aja kalau sampai ketauan.. Gue kan, jadi nggak enak ama keluarga lu?”.
“Biarin aja, itung-itung sebagai bukti kalau gue bisa hamil!”.
Setelah Riska berkata tadi aku berpikir, si Riska gila juga nih, pikirku. Aku tahu, kami memang sama-sama dekat, tapi hanya sebatas teman biasa. Aku hanya takut, nanti setelah kejadian, salah satu dari kami bisa muncul perasaan berbeda. Walupun Riska percaya aku tidak seperti itu, tetap saja aku ragu. Memang aku tidak memungkiri, ingin sekali tidur dengannya. Tapi perasaan itu aku tahan, karena bisa merusak hubungan kami nantinya. Paling kalau sudah tidak terbendung, ujungnya hanya masturbasi. Aku memang doyan sekali dengan yang namanya sex. Tapi aku tidak mau obral cinta demi sex semata. Oleh sebab itu, permintaan Riska ini bisa saja mengubah suasana. Tapi setelah aku pikir-pikir, apa salahnya aku coba. Toh, dari dulu memang aku ingin sekali melihat lekuk tubuhnya..
“gimana To, bisa nggak?” kata Riska tiba-tiba yang membuyarkan lamunanku.
“Bisaa.. Ya pasti gue bisa aja dong! Wong enak kok, main perang-perangan”.
“Heh, enak aja! Kata sapa lu, kita makkenda'? Gue kan cuma bilang minta sperma lu? Bukan berarti kita main sex! Dan gue minta kita bersikap obyektif yah, ingat gue sudah punya pacar”.
“Jadi kita nggak nge-sex? Gimana caranya? Emang lu mau minum sperma gue, yang ada sih lu cuma kenyang, bukannya bunting!” kataku mulai bingung.
“Hush, jijik ah, omongan lu. Gimana caranya lu hanya keluarin sperma lu nanti, terus langsung masukin ke punya gue”.
“Waah, susah amat proyeknya! Tapi okelah, kita coba aja yah” akupun menyanggupi, karena aku berpikiran, akan berusaha paling tidak bisa melihat bentuk tubuhnya yang membuat penasaran selama ini. Kemudian dalam pembicaraan selanjutnya, kamipun sepakat untuk bertemu esok harinya di salah hotel bintang 3 di arah yang berbeda dengan daerah rumah kami .
Hari Sabtu pun tiba. Setelah istirahat yang cukup, pagi-pagi sekali aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk tujuanku nanti. Setelah aku tiba di hotel tersebut, aku langsung check-in. Kemudian menunggu di kamar hotel setelah sebelumnya aku memberitahu Riskabahwa aku sudah sampai. Lama sekali Riska tidak muncul, sudah hampir 3 jam aku menunggunya sambil menonton acara music di TV kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, ketika tiba-tiba ada ketukan halus dari pintu kamarku.


1 komentar:
The best casinos in Arizona - AprCasino
ReplyArizona casinos offer the latest slots games and the biggest promotions. Visit our online casino for exclusive bonuses, games, and live dealer What is the closest casino to 카지노 커뮤니티 사이트 Phoenix?Can I play online for real money?
Posting Komentar